1.295
suntingan
Tidak ada ringkasan suntingan |
kTidak ada ringkasan suntingan |
||
| (2 revisi perantara oleh pengguna yang sama tidak ditampilkan) | |||
| Baris 20: | Baris 20: | ||
Dan saya sebetulnya sudah lama ingin mempertemukan dua budayawan kita ini. Saya menyebut budayawan aja. Tapi sebetulnya sebutan yang paling tepat itu, intelektual organik. Itu [[Antonio Gramsci|Gramsci]] ya. Mas Muhidin M Dahlan dan Mas Irfan Afifi. Kenapa saya sebut intelektual organik? Karena mereka bukan hanya berkecimpung di dalam dunia intelektualisme atau dunia literasi, tetapi juga membuat organisasi, membuat media, membuat komunitas, sebagai bentuk dari aspirasi politik mungkin ya atau aspirasi gagasan mereka di dalam kehidupan sehari-hari. Jadi terima kasih buat Mas Muhiddin M Dahlan dan Mas Irfan Afifi yang telah datang. | Dan saya sebetulnya sudah lama ingin mempertemukan dua budayawan kita ini. Saya menyebut budayawan aja. Tapi sebetulnya sebutan yang paling tepat itu, intelektual organik. Itu [[Antonio Gramsci|Gramsci]] ya. Mas Muhidin M Dahlan dan Mas Irfan Afifi. Kenapa saya sebut intelektual organik? Karena mereka bukan hanya berkecimpung di dalam dunia intelektualisme atau dunia literasi, tetapi juga membuat organisasi, membuat media, membuat komunitas, sebagai bentuk dari aspirasi politik mungkin ya atau aspirasi gagasan mereka di dalam kehidupan sehari-hari. Jadi terima kasih buat Mas Muhiddin M Dahlan dan Mas Irfan Afifi yang telah datang. | ||
Saya sengaja ingin mempertemukan mereka berdua, alasan yang kedua, karena sama-sama host bintang Jas Merah. Dua acara, eh satu acara di Mojok ya, mungkin teman-teman sudah tahu, yang satu [[Politik sayap kiri|kiri]], mas Muhiddin, seperti tempat duduknya, yang satu [[Politik sayap kanan| | Saya sengaja ingin mempertemukan mereka berdua, alasan yang kedua, karena sama-sama host bintang Jas Merah. Dua acara, eh satu acara di Mojok ya, mungkin teman-teman sudah tahu, yang satu [[Politik sayap kiri|kiri]], mas Muhiddin, seperti tempat duduknya, yang satu [[Politik sayap kanan|kanan]] seperti tempat duduknya juga. Yang satu banyak membahas soal isu-isu kiri. Dia pilih memang sengaja kayaknya Mojok mau di kiri kan sama dia. Jadi kan kalau orang kiri kan pintar dia ini ya meng-influence gitu secara pelan-pelan. Dan yang kedua ada mas Irfan Afifi memang agak kanan, walaupun kanannya tidak dalam terminologi yang biasa kita sebut kanan lah ya, tapi dibanding mas Muhidin dia kanan, jelas kalau itu ya, harus ada garis batas yang jelas. | ||
Dan yang ketiga alasannya, karena saya memang pengen mengeksplorasi satu tema yang saya anggap penting sekali dan sekarang mulai jarang diperbincangkan oleh orang. Yaitu tentang arah atau jalannya kebudayaan kita. | Dan yang ketiga alasannya, karena saya memang pengen mengeksplorasi satu tema yang saya anggap penting sekali dan sekarang mulai jarang diperbincangkan oleh orang. Yaitu tentang arah atau jalannya kebudayaan kita. | ||
| Baris 55: | Baris 55: | ||
Sekarang gak ada revolusi apa-apa kita nggak mikir kebudayaan. Selain [[Dana Keistimewaan|Danais]]. Jadi di tengah revolusi, kita itu melangsungkan kongres kebudayaan, kebayang nggak itu? di tengah itu, setahu saya itu [[aksi polisionil]] luar biasa oleh Belanda itu. Dan kita bukan dipilih di Jogja tapi di Magelang, soalnya Jogja sama Madiun lagi tegang. | Sekarang gak ada revolusi apa-apa kita nggak mikir kebudayaan. Selain [[Dana Keistimewaan|Danais]]. Jadi di tengah revolusi, kita itu melangsungkan kongres kebudayaan, kebayang nggak itu? di tengah itu, setahu saya itu [[aksi polisionil]] luar biasa oleh Belanda itu. Dan kita bukan dipilih di Jogja tapi di Magelang, soalnya Jogja sama Madiun lagi tegang. | ||
Siapa aja yang datang? hampir seluruh pimpinan nasional itu datang. [[Soekarno | Siapa aja yang datang? hampir seluruh pimpinan nasional itu datang. [[Soekarno]] datang. [[Mohammad Hatta|Hatta]] datang. [[Ki Hadjar Dewantara]] datang. bahkan Panglima Sudirman, itu datang. Dari situlah lahir salah satu kampus terbesar seniman itu, ISI Yogyakarta. Itu rekomendasinya dia itu. Akademik kesenian itu. | ||
Jadi dari awal orang-orang Republik sudah sadar bahwa kebudayaan itu penting gitu. Tapi kebudayaan macam apa? Di situ Soekarno memperingatkan dalam kongres itu tolong pikirkan baik-baik. Dan gak ada...lanjutannya nggak ada. Pikirkan baik-baik, kata dia. Nah saya melihat bahwa ketika kita disuruh pikirkan baik-baik, maka ada sekelompok orang ketika Jogja, pindah ibu kota, pindah dari Jogja ke Jakarta, karena nggak mungkin di...apa rekomendasi-rekomendasi kongres itu dijalankan di Yogyakarta. Sekarang setelah itu agresi militer Belanda kedua, '49. Lahirlah Lekra di situ, '50. 17 Agustus '50. | Jadi dari awal orang-orang Republik sudah sadar bahwa kebudayaan itu penting gitu. Tapi kebudayaan macam apa? Di situ Soekarno memperingatkan dalam kongres itu tolong pikirkan baik-baik. Dan gak ada...lanjutannya nggak ada. Pikirkan baik-baik, kata dia. Nah saya melihat bahwa ketika kita disuruh pikirkan baik-baik, maka ada sekelompok orang ketika Jogja, pindah ibu kota, pindah dari Jogja ke Jakarta, karena nggak mungkin di...apa rekomendasi-rekomendasi kongres itu dijalankan di Yogyakarta. Sekarang setelah itu agresi militer Belanda kedua, '49. Lahirlah Lekra di situ, '50. 17 Agustus '50. | ||
| Baris 125: | Baris 125: | ||
Dulu [[Peter Carey]]...saya ketemu pak Peter Carey itu gini, mas dituliskan tentang Indonesia hari ini sampai dari rentang waktu berapa tahun sampai hari ini itu yang nulis Indonesia, kajian tentang Indonesia itu 80% nya bule, alias apa? Indonesia itu bangsa yang tidak bisa menulis sejarahnya sendiri, bangsa yang didefinisikan oleh orang lain, akhirnya kita arahnya nggak pernah tahu. Ketika ada pembacaan ke belakang, itu kita selalu membentur tembok-tembok kesarjanaan kolonial. Sarjananya udah numpuk-numpuk, deskripsi kita tentang kejawaan, deskripsi kita tentang kemelayuan, definisi kita tentang ke Indonesiaan itu didefinisikan oleh orang lain. akhirnya kita nggak pernah tahu sebenarnya siapa bangsa ini, siap dan apa kemampuannya? Apa kelebihannya? apa kekurangan? dan arahnya mau menuju ke mana? kita nggak pernah tahu. Akhirnya ngikut, kita nggak berjauhan sebagai sebuah bangsa kalau di sana sudah Society 5.0, kita mau mengikuti dia sudah jadi 5 6 7, kepontal-pontal. Kita terus menerus hanya mengikuti, nggak pernah kita berdaulat menentukan track atau trajectory arah kebudayaan kita sendiri. Itu yang pertama.}} | Dulu [[Peter Carey]]...saya ketemu pak Peter Carey itu gini, mas dituliskan tentang Indonesia hari ini sampai dari rentang waktu berapa tahun sampai hari ini itu yang nulis Indonesia, kajian tentang Indonesia itu 80% nya bule, alias apa? Indonesia itu bangsa yang tidak bisa menulis sejarahnya sendiri, bangsa yang didefinisikan oleh orang lain, akhirnya kita arahnya nggak pernah tahu. Ketika ada pembacaan ke belakang, itu kita selalu membentur tembok-tembok kesarjanaan kolonial. Sarjananya udah numpuk-numpuk, deskripsi kita tentang kejawaan, deskripsi kita tentang kemelayuan, definisi kita tentang ke Indonesiaan itu didefinisikan oleh orang lain. akhirnya kita nggak pernah tahu sebenarnya siapa bangsa ini, siap dan apa kemampuannya? Apa kelebihannya? apa kekurangan? dan arahnya mau menuju ke mana? kita nggak pernah tahu. Akhirnya ngikut, kita nggak berjauhan sebagai sebuah bangsa kalau di sana sudah Society 5.0, kita mau mengikuti dia sudah jadi 5 6 7, kepontal-pontal. Kita terus menerus hanya mengikuti, nggak pernah kita berdaulat menentukan track atau trajectory arah kebudayaan kita sendiri. Itu yang pertama.}} | ||
{{timeline|tc=00:31:38|sosok=IRFAN|isi= | {{timeline|tc=00:31:38|sosok=IRFAN|isi= | ||
Yang kedua, saya ingin juga mengutip Daud Yusuf, Daud Yusuf dulu gini, ngomong, mantan menteri pendidikan kita, bahwa kebudayaan itu merupakan faktor konstitutif pendidikan. Jadi kalau ada sistem pendidikan, lambaran nilainya harus kebudayaannya. Masalahnya, pendidikan kita sejak dari awal itu adalah barang cangkokan. Dari pertama misalnya pemerintah Belanda mencangkokkan pendidikan di sini dengan struktur pandangan dunia yang berbeda, akhirnya politik etis terbentuk. Pendidikan-pendidikan itu diajarkan dan memang dari sejak awal, dia didik untuk ingin mencetak antenar dan sampai hari ini tidak berubah. Kita pengen jadi PNS, kita pengen jadi pejabat, dan itu nggak pernah berubah. Sehingga pendidikan ini nggak pernah menghasilkan manusia tanda petik. Tidak pernah menghasilkan intelektual, tidak pernah menghasilkan apapun. Karena memang tradisi ini dari sejak awal barang cangkokan dan di level struktur pandang dunia paling atasnya kita terus-menerus bertempur. Makanya Daud Yusuf dulu menginisiasi awal-awal membentuk program namanya Javanologi. Ini kalau pendidikan dan nilai kulturalnya aja nggak nyambung, bagaimana kita mau berdaulat sebagai sebuah bangsa? Akhirnya mereka oke kita teliti sajalah. Kita mulai dari Jawa dulu. Nanti kalau Jawa berhasil kita mulai Sundanologi. Kita mulai Acehnologi dan lain sebagainya. Tapi belum...belum sampai jauh lembaga itu tumbang begitu. Lembaga itu tumbang dan akhirnya nggak berlanjut.}} | Yang kedua, saya ingin juga mengutip [[Daoed Joesoef|Daud Yusuf]], Daud Yusuf dulu gini, ngomong, mantan menteri pendidikan kita, bahwa kebudayaan itu merupakan faktor konstitutif pendidikan. Jadi kalau ada sistem pendidikan, lambaran nilainya harus kebudayaannya. Masalahnya, pendidikan kita sejak dari awal itu adalah barang cangkokan. Dari pertama misalnya pemerintah Belanda mencangkokkan pendidikan di sini dengan struktur pandangan dunia yang berbeda, akhirnya politik etis terbentuk. Pendidikan-pendidikan itu diajarkan dan memang dari sejak awal, dia didik untuk ingin mencetak antenar dan sampai hari ini tidak berubah. Kita pengen jadi PNS, kita pengen jadi pejabat, dan itu nggak pernah berubah. Sehingga pendidikan ini nggak pernah menghasilkan manusia tanda petik. Tidak pernah menghasilkan intelektual, tidak pernah menghasilkan apapun. Karena memang tradisi ini dari sejak awal barang cangkokan dan di level struktur pandang dunia paling atasnya kita terus-menerus bertempur. Makanya Daud Yusuf dulu menginisiasi awal-awal membentuk program namanya Javanologi. Ini kalau pendidikan dan nilai kulturalnya aja nggak nyambung, bagaimana kita mau berdaulat sebagai sebuah bangsa? Akhirnya mereka oke kita teliti sajalah. Kita mulai dari Jawa dulu. Nanti kalau Jawa berhasil kita mulai Sundanologi. Kita mulai Acehnologi dan lain sebagainya. Tapi belum...belum sampai jauh lembaga itu tumbang begitu. Lembaga itu tumbang dan akhirnya nggak berlanjut.}} | ||
{{timeline|tc=00:33:22|sosok=IRFAN|isi= | {{timeline|tc=00:33:22|sosok=IRFAN|isi= | ||
Tapi ada siratan visi daun Yusuf yang saya sudah bisa tangkap, bahwa dia ingin membikin arah pendidikan ini sesuai dengan inang kebudayaan bangsa ini agar pendidikan kita tidak mengasingkan kita. Ini teman-teman mungkin bisa menjadi saksi, semakin Anda semakin terdidik secara pendidikan formal anda akan semakin terasing dengan masyarakat anda. Coba. Anda rasakan sendiri dan saya korbannya begitu.}} | Tapi ada siratan visi daun Yusuf yang saya sudah bisa tangkap, bahwa dia ingin membikin arah pendidikan ini sesuai dengan inang kebudayaan bangsa ini agar pendidikan kita tidak mengasingkan kita. Ini teman-teman mungkin bisa menjadi saksi, semakin Anda semakin terdidik secara pendidikan formal anda akan semakin terasing dengan masyarakat anda. Coba. Anda rasakan sendiri dan saya korbannya begitu.}} | ||