Candi Sumberawan

Dari Wiki Javasatu
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Candi Sumberawan terletak di Dusun Sumberawan, Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, terletak di lahan Perhutani dengan suasana yang masih asri serta terdapat hutan pinus yang berfungsi sebagai bumi perkemahan.

Candi Sumberawan berbentuk stupa, sehingga banyak pula yang menyebut candi ini dengan nama Stupa Sumberawan, bentuk stupa ini menjadi hal yang istimewa, karena candi berbentuk stupa jarang dijumpai di wilayah Provinsi Jawa Timur.

Berdasarkan riwayatnya Candi Sumberawan pertama kali ditemukan pada tahun 1904 oleh masyarakat. Kemudian tahun 1935 Dinas Purbakala Hindia Belanda melakukan pengkajian atas bangunan tersebut dan pada tahun 1937 dipimpin Ir. Van Romondt berhasil dilakukan pemugaran.

Tidak diketahui dengan pasti kapan Candi Sumberawan didirikan. Menurut para ahli diduga bangunan ini didirikan sekitar abad XIV M, bahkan ada yang menduga bahwa daerah ini dulunya bernama Kasurangganan.

Artinya taman bidadari atau taman surga nimfa, yaitu daerah yang pemah dikunjungi Raja Hayam Wuruk pada tahun 1359 M, ketika pergi ke Singhasari, hal ini diberitakan dalam kitab Negarakertagama karangan Mpu Prapanca yang disebut pada pupuh 35 bait ke 4.

Bentuk bangunan Candi Sumberawan berdenah segi empat dengan ukuran 6,3 m x 6,3 m tinggi 5,56 m, yang terdiri atas tiga bagian, yaitu batur, kaki serta tubuh candi. Bagian puncak stupa sudah runtuh. Batur berbentuk denah segi empat, polos.

Kaki stupa terdiri dari 2 tingkatan, yaitu kaki 1 (satu) dan kaki 2 (dua). Kaki 1 (bawah) berdenah segi empat dengan profil pelipit-pelipit pada bagian atas dan bawah, sedangkan bagian tengah berupa bidang datar polos. Profil kaki 2 (dua) mirip dengan kaki 1 (satu), yaitu pelipit-pelipit pada bagian atas dan bawah, sedangkan bagian tengah sisi terdapat bidang panil (kosong tanpa relief).

Bangunan suci ini tidak memiliki hiasan atau ukiran dan juga tidak ada tangga naik, sehingga tidak ada akses naik untuk melihat kondisi bagian puncak yang sudah runtuh.

Selain itu tidak terdapat ruang yang biasanya digunakan untuk menyimpan reliek (benda-benda suci) seperti stupa pada umumnya, sehingga diduga digunakan hanya untuk pemujaan. Selain keberadaan stupa, BPCB Provinsi Jawa Timur mencatat sebuah lumpang dengan bentuk silindris agak mengembang ke atas, bagian permukaan atas agak cekung dengan lubang berbentuk lingkaran di tengahnya.