Lompat ke isi

Boediono

Dari Wiki Javasatu
Revisi sejak 7 Oktober 2023 06.01 oleh Adminjavasatu (bicara | kontrib)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)
Prof. Boediono, B.Sc., M.Ec., Ph.D.
Foto Potret resmi, Boediono sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia, 2009.
Wakil Presiden Indonesia ke-11
Masa jabatan
20 Oktober 2009 – 20 Oktober 2014
PresidenSusilo Bambang Yudhoyono
PendahuluJusuf Kalla
PenggantiJusuf Kalla
Gubernur Bank Indonesia ke-13
Masa jabatan
22 Mei 2008 – 16 Mei 2009
PresidenSusilo Bambang Yudhoyono
PendahuluBurhanuddin Abdullah
PenggantiMiranda Goeltom (Pelaksana Tugas)
Darmin Nasution
Informasi pribadi
Lahir25 Februari 1943 (umur 83)
Blitar, Jawa Timur, Wilayah Kolonial Jepang
KebangsaanIndonesia
Partai politikIndependen
Suami/istri
Herawati
(m. 1969)
<ref>"Obrolan Santai Dengan Istri Cawapres". Tabloid Nova. Diarsipkan dari versi asli tanggal 13 Juni 2009. Diakses tanggal 27 Juli 2009.  </ref>
AnakRatriana Ekarini
Dios Kurniawan
Tempat tinggalYogyakarta
Alma materUniversitas Gadjah Mada
Universitas Western Australia
Universitas Monash
Universitas Pennsylvania
Profesi
Tanda tanganBerkas:Tanda Tangan Boediono.png

Prof. Dr. (HC) H. Boediono, B.Sc., M.Ec., Ph.D (lahir 25 Februari 1943) adalah Wakil Presiden Indonesia ke-11 yang menjabat sejak 20 Oktober 2009 hingga 20 Oktober 2014. Ia terpilih dalam Pilpres 2009 bersama pasangannya, presiden yang sedang menjabat, Susilo Bambang Yudhoyono.

Sebelumnya ia pernah menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Menteri Keuangan, Menteri Negara Perencanaan dan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, dan Direktur Bank Indonesia (sekarang setara Deputi Gubernur). Saat ini ia juga mengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada sebagai guru besar.<ref>"Boediono Diangkat Menjadi Guru Besar UGM". Kompas.com. Kompas. 22 September 2006. Diakses tanggal 25 Februari 2014. [pranala nonaktif permanen]</ref> Oleh relasi dan orang-orang yang sering kali berinteraksi dengannya ia dijuluki The man to get the job done.<ref>"Pak Bud, Ekonom yang Sederhana". pemiluindonesia.com. 16 Mei 2009. Diakses tanggal 25 Februari 2014. [pranala nonaktif permanen]</ref>

Kehidupan awal

[sunting | sunting sumber]

Boediono menghabiskan masa kecilnya di Kota Blitar, Jawa Timur. Saat masih sekolah dasar ia bersekolah di SD Muhammadiyah.<ref>Muhammad Taufiqqurahman (25 Maret 2013). "Boediono & Cerita Masa Kecilnya". detikcom. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2014-03-04. Diakses tanggal 25 Februari 2014. </ref> Setelah menyelesaikan sekolah dasar ia melanjutkan pendidikan menengahnya di SMP Negeri 1 Blitar<ref>Irwan Nugroho (4 Mei 2010). "Boediono & Istri Nostalgia di SMP Negeri 1 Blitar". detikcom. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2014-03-04. Diakses tanggal 25 Februari 2014. </ref> dan kemudian di SMA Negeri 1 Blitar<ref>ANT&FWH (19 Desember 2010). "Boediono Bangga dengan Almamaternya". Tempo.co. Tempo.co. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2014-02-28. Diakses tanggal 25 Februari 2014. </ref>

Setelah menyelesaikan pendidikan menengahnya, ia kemudian melanjutkan pendidikan tingginya di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Setelah itu gelar Bachelor of Economics (Hons.) diraihnya dari Universitas Western Australia pada tahun 1967. Lima tahun kemudian, gelar Master of Economics diperoleh dari Universitas Monash. Pada tahun 1979, ia mendapatkan gelar S3 (Ph.D.) dalam bidang ekonomi dari Wharton School, Universitas Pennsylvania.<ref>"Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia". ekon.go.id. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2021-02-08. Diakses tanggal 2021-02-14. </ref>

Boediono menikah dengan Herawati (lahir di Blitar, 15 Februari 1944), pada tahun 1969 dan memiliki dua orang anak yaitu Ratriana Ekarini, M.Bus dan Dios Kurniawan, MSc.

Boediono pertama kali diangkat menjadi menteri pada tahun 1998 dalam Kabinet Reformasi Pembangunan sebagai Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional. Setahun kemudian, ketika terjadi peralihan kabinet dan kepemimpinan dari Presiden BJ Habibie ke Abdurrahman Wahid, ia digantikan oleh Kwik Kian Gie. Bersama dengan beberapa tokoh nasional, ia turut mendirikan Kemitraan bagi Pembaruan Tata Pemerintahan untuk mendorong reformasi.<ref>"Para Pendiri Kemitraan bagi Pembaruan Tata Pemerintahan". Kemitraan bagi Pembaruan Tata Pemerintahan. Diakses tanggal 4 Maret 2015. </ref>

Ia kembali diangkat sebagai Menteri Keuangan pada tahun 2001 dalam Kabinet Gotong Royong menggantikan Rizal Ramli. Sebagai Menteri Keuangan dalam Kabinet Gotong Royong, ia membawa Indonesia lepas dari bantuan Dana Moneter Internasional dan mengakhiri kerja sama dengan lembaga tersebut.<ref>"Prof. Dr. Boediono, Ekonom Bertangan Dingin". TokohIndonesia.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2015-04-04. Diakses tanggal 4 Maret 2015. </ref> Oleh BusinessWeek, ia dipandang sebagai salah seorang menteri yang paling berprestasi dalam kabinet tersebut.<ref>"Profile in Business Week". Business Week. Edisi 9 Juli 2003. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2009-05-16. Diakses tanggal 9 Juli 2003.  </ref> Di kabinet tersebut, ia bersama Menteri Koordinator Perekonomian Dorodjatun Kuntjoro-Jakti dijuluki 'The Dream Team' karena mereka dinilai berhasil menguatkan stabilitas makroekonomi Indonesia yang belum sepenuhnya pulih dari Krisis Moneter 1998. Ia juga berhasil menstabilkan kurs rupiah di angka kisaran Rp 9.000 per dolar AS.<ref>Edy Haryadi (6 Mei 2009). "Mari Mengenal Boediono". VivaNews.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2009-05-09. Diakses tanggal 6 Mei 2009. </ref>

Ketika Susilo Bambang Yudhoyono terpilih sebagai presiden, banyak orang yang mengira bahwa Boediono akan dipertahankan dalam jabatannya, namun posisinya ternyata ditempati Jusuf Anwar. Menurut laporan, Boediono sebenarnya telah diminta oleh Presiden Yudhoyono untuk bertahan, namun ia memilih untuk beristirahat dan kembali mengajar. Saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melakukan perombakan (reshuffle) kabinet pada 5 Desember 2005, Boediono diangkat menggantikan Aburizal Bakrie menjadi Menteri Koordinator bidang Perekonomian. Indikasi Boediono akan menggantikan Aburizal Bakrie direspon sangat positif oleh pasar sejak hari sebelumnya dengan menguatnya IHSG serta mata uang rupiah. Kurs rupiah menguat hingga di bawah Rp 10.000 per dolar AS. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEJ juga ditutup menguat hingga 23,046 poin (naik sekitar 2 persen) dan berada di posisi 1.119,417, berhasil menembus level 1.100.<ref>Nurul Qomariyah (12 Februari 2005). "Boediono Akan Masuk Kabinet, IHSG Kembali Tembus Level 1.100". DetikFinance.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2023-03-25. Diakses tanggal 12 Februari 2005. </ref> Ini karena Boediono dinilai mampu mengelola makro-ekonomi yang kala itu belum didukung pemulihan sektor riil dan moneter.

Pada tanggal 9 April 2008, DPR mengesahkan Boediono sebagai Gubernur Bank Indonesia, menggantikan Burhanuddin Abdullah. Ia merupakan calon tunggal yang diusulkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan pengangkatannya didukung oleh Burhanuddin Abdullah, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Kamar Dagang Industri atau Kadin, serta seluruh anggota DPR kecuali fraksi PDIP.<ref>"Boediono diangkat menjadi Gubernur Bank Indonesia". IRIB Indonesia. Diakses tanggal 19 Mei 2008. </ref>

Ketika namanya diumumkan sebagai calon wakil presiden mendampingi calon presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada bulan Mei 2009, banyak pihak yang tidak bisa menerima dengan berbagai alasan, seperti tidak adanya pengalaman politik, pendekatan ekonominya yang liberal, serta bahwa ia juga orang Jawa (SBY juga orang Jawa). Namun, ia dipilih oleh SBY karena ia sangat bebas kepentingan dan konsisten dalam melakukan reformasi di bidang keuangan. Pasangan ini didukung Partai Demokrat dan 23 partai lainnya, termasuk PKB, PPP, PKS, dan PAN. Pada Pemilihan Umum 8 Juli 2009, pasangan SBY-Boediono menang atas dua pesaingnya, MegawatiPrabowo dan KallaWiranto.

Jabatan politik

[sunting | sunting sumber]

Boediono menjadi calon wakil presiden 2009–2014 mendampingi calon presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang dideklarasikan 15 Mei 2009 di Sasana Budaya Ganesha kota Bandung. Jika terpilih, dia akan menjadi wakil presiden pertama yang berlatar belakang ekonomi dan non-partisan setelah Mohammad Hatta (wakil presiden pertama RI). Dalam acara ini dirilis sistem ekonomi moralistik, manusiawi, nasionalistik dan kerakyatan atau kemasyarakatan.<ref>"Boediono Janji Rilis Kebijakan Prorakyat". DetikNews.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2009-05-18. Diakses tanggal 15 Mei 2009. </ref> Boediono berangkat ke Bandung dengan menggunakan kereta api regular Parahyangan.<ref>"Canda Tawa di Kereta Boediono Seharga Rp 52 Ribu/Orang". DetikNews.com. 15 Mei 2009. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2009-05-19. Diakses tanggal 15 Mei 2009. </ref><ref>"Boediono Naik Parahyangan ke Bandung". DetikNews.com. 15 Mei 2009. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2009-05-19. Diakses tanggal 15 Mei 2009. </ref>

Jabatan lain

[sunting | sunting sumber]

Penghargaan

[sunting | sunting sumber]

Boediono mendapat penghargaan Bintang Mahaputra Adipradana tahun 1999<ref>"Prof. Dr. Boediono, M.Ec". Uniersitas Gadjah Mada. Diakses tanggal 2006.  [pranala nonaktif permanen]</ref> dan "Distinguished International Alumnus Award" dari University of Western Australia pada tahun 2007.<ref>Suhendratio, Hendi (10 Mei 2007). "Boediono Raih Penghargaan". detikFinance. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2015-04-05. Diakses tanggal 10 Mei 2007. </ref> Setelah menjadi Wakil Presiden, Boediono juga menerima beberapa tanda kehormatan bintang sipil.<ref>"Tanda Kehormatan yang dimiliki Presiden". Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. 10 Mei 2019. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2021-03-18. Diakses tanggal 2021-12-17. </ref>

Tanda kehormatan

[sunting | sunting sumber]

Penerimaan

[sunting | sunting sumber]

Baik saat sebagai wakil presiden maupun ketika masih menjabat Menteri Keuangan, Menteri Koordinator Ekonomi, ataupun Gubernur BI, kebijakan Boediono disikapi secara beragam oleh berbagai kalangan.

Karya dan publikasi

[sunting | sunting sumber]
  • Boediono, Ekonomi Indonesia Mau ke Mana?: Kumpulan Esai Ekonomi, 2009, PT Gramedia, Jakarta. ISBN 978-979-9101-89-1.
  • Stabilization in A Period of Transition: Indonesia 2001-2004. dalam The Australian Government-The Treasury, Macroeconomic Policy and Structural Change in East Asia: Conference Proceedings, Sydney (2005), ISBN 0-642-74290-1, 43-48 pp.
  • 'Managing The Indonesian Economy: Some Lessons From The Past?', Bulletin of Indonesia Economic Studies, 41(3):309-324, December 2005.
  • 'Professor Mubyarto, 1938-2005'. Bulletin of Indonesian Economic Studies, 41(2):159-162, August 2005.
  • 'Kebijakan Fiskal: Sekarang dan Selanjutnya?', dalam Subiyantoro dan S. Riphat (Eds.). 2004. Kebijakan Fiskal: Pemikiran, Konsep dan Implementasi. Penerbit Buku Kompas, 43-55 pp.
  • The International Monetary Fund Support Program in Indonesia: Comparing Implementation Under Three Presidents. Bulletin of Indonesia Economic Studies, 38(3): 385-392, December 2002.
  • Boediono. 2001. Indonesia menghadapi ekonomi global. BPFE. Yogyakarta.
  • Boediono. 'Strategi Industrialisasi: Adakah Titik Temu ?', Prisma, Tahun XV, No.1. (1986)
  • Mubyarto, Boediono, Ace Partadiredja. 1981. Ekonomi Pancasila. BPFE. Yogyakarta.

Referensi

[sunting | sunting sumber]
<references group=""></references>

Bacaan lanjutan

[sunting | sunting sumber]
  • Arief Budiman, Sistem Perekonomian Pancasila dan Ideologi Ilmu Sosial di Indonesia, Gramedia, (1989) ISBN 979-403-618-8 ISBN 978-979-403-618-1

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]
Jabatan politik
Didahului oleh:
Muhammad Jusuf Kalla
Wakil Presiden Indonesia
2009–2014
Diteruskan oleh:
Muhammad Jusuf Kalla
Didahului oleh:
Aburizal Bakrie
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia
2005–2008
Diteruskan oleh:
Sri Mulyani Indrawati
sebagai Pelaksana Tugas
Didahului oleh:
Rizal Ramli
Menteri Keuangan Indonesia
2001–2004
Diteruskan oleh:
Jusuf Anwar
Didahului oleh:
Ginandjar Kartasasmita
Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional Indonesia
1998–1999
Jabatan lowong
Selanjutnya dijabat oleh
Kwik Kian Gie
Jabatan pemerintahan
Didahului oleh:
Burhanuddin Abdullah
Gubernur Bank Indonesia
2008–2009
Diteruskan oleh:
Miranda Gultom
(Pelaksana Tugas)