<?xml version="1.0"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xml:lang="id">
	<id>https://wiki.javasatu.com/index.php?action=history&amp;feed=atom&amp;title=Belenggu_%28novel%29</id>
	<title>Belenggu (novel) - Riwayat revisi</title>
	<link rel="self" type="application/atom+xml" href="https://wiki.javasatu.com/index.php?action=history&amp;feed=atom&amp;title=Belenggu_%28novel%29"/>
	<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.javasatu.com/index.php?title=Belenggu_(novel)&amp;action=history"/>
	<updated>2026-04-04T17:23:13Z</updated>
	<subtitle>Riwayat revisi halaman ini di wiki</subtitle>
	<generator>MediaWiki 1.40.0</generator>
	<entry>
		<id>https://wiki.javasatu.com/index.php?title=Belenggu_(novel)&amp;diff=16169&amp;oldid=prev</id>
		<title>Juliansukrisna87: ←Membuat halaman berisi '{{disambiginfo|Belenggu (disambiguasi)}} {{Infobox book &lt;!-- See Wikipedia:WikiProject Novels or Wikipedia:WikiProject Books --&gt; | name = Belenggu | title_orig = | translator = | image = Berkas:Belenggu cover.jpg | image_caption = Sampul cetakan ke-21 | author = Armijn Pane | cover_artist = | country = Indonesia | language = Indonesia | series = | genre = Novel | publisher = ''Poedjangga Baroe''&lt;br/&gt;Dian Rakyat | release_date = 19...'</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.javasatu.com/index.php?title=Belenggu_(novel)&amp;diff=16169&amp;oldid=prev"/>
		<updated>2024-12-20T04:11:54Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;←Membuat halaman berisi &amp;#039;{{disambiginfo|Belenggu (disambiguasi)}} {{Infobox book &amp;lt;!-- See Wikipedia:WikiProject Novels or Wikipedia:WikiProject Books --&amp;gt; | name = Belenggu | title_orig = | translator = | image = Berkas:Belenggu cover.jpg | image_caption = Sampul cetakan ke-21 | author = &lt;a href=&quot;/wiki/Armijn_Pane&quot; title=&quot;Armijn Pane&quot;&gt;Armijn Pane&lt;/a&gt; | cover_artist = | country = &lt;a href=&quot;/wiki/Indonesia&quot; title=&quot;Indonesia&quot;&gt;Indonesia&lt;/a&gt; | language = &lt;a href=&quot;/wiki/Bahasa_Indonesia&quot; title=&quot;Bahasa Indonesia&quot;&gt;Indonesia&lt;/a&gt; | series = | genre = Novel | publisher = &amp;#039;&amp;#039;&lt;a href=&quot;/wiki/Poedjangga_Baroe&quot; title=&quot;Poedjangga Baroe&quot;&gt;Poedjangga Baroe&lt;/a&gt;&amp;#039;&amp;#039;&amp;lt;br/&amp;gt;Dian Rakyat | release_date = 19...&amp;#039;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;b&gt;Halaman baru&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt;{{disambiginfo|Belenggu (disambiguasi)}}&lt;br /&gt;
{{Infobox book &amp;lt;!-- See Wikipedia:WikiProject Novels or Wikipedia:WikiProject Books --&amp;gt;&lt;br /&gt;
| name = Belenggu&lt;br /&gt;
| title_orig =&lt;br /&gt;
| translator =&lt;br /&gt;
| image = Berkas:Belenggu cover.jpg&lt;br /&gt;
| image_caption = Sampul cetakan ke-21&lt;br /&gt;
| author = [[Armijn Pane]]&lt;br /&gt;
| cover_artist =&lt;br /&gt;
| country = [[Indonesia]]&lt;br /&gt;
| language = [[Bahasa Indonesia|Indonesia]]&lt;br /&gt;
| series =&lt;br /&gt;
| genre = Novel&lt;br /&gt;
| publisher = ''[[Poedjangga Baroe]]''&amp;lt;br/&amp;gt;Dian Rakyat&lt;br /&gt;
| release_date = 1940&lt;br /&gt;
| media_type = Cetak (kulit keras &amp;amp; lunak)&lt;br /&gt;
| pages = 150 (cetakan ke-21)&lt;br /&gt;
| isbn = 979-523-048-8 (cetakan ke-21)&lt;br /&gt;
| dewey =&lt;br /&gt;
| congress =&lt;br /&gt;
| oclc =&lt;br /&gt;
| preceded_by =&lt;br /&gt;
| followed_by =&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
'''''Belenggu''''' merupakan salah satu novel Indonesia oleh [[Armijn Pane]]. Diilhami oleh teori [[psikoanalisis]] milik [[Sigmund Freud]], novel ini menceritakan cinta segitiga antara seorang dokter, istrinya, dan temannya; cinta segitiga ini akhirnya membuat semua mereka kehilangan orang yang paling dicintai. Pertama kali diterbitkan oleh majalah sastra ''[[Poedjangga Baroe]]'' dalam tiga bagian dari April hingga Juni 1940, ''Belenggu'' merupakan satu-satunya novel yang diterbitkan majalah tersebut dan [[novel psikologis]] Indonesia pertama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dasar-dasar cerita ''Belenggu'' sudah wujud dalam dua [[cerpen]] yang ditulis Armijn sebelumnya, yaitu &amp;quot;Barang Tiada Berharga&amp;quot; (1935) dan &amp;quot;Lupa&amp;quot; (1936). Novel yang dihasilkan, yang ditulis untuk mencerminkan aliran pikiran manusia dan dengan menggunakan tanda [[elipsis]] dan [[monolog]] untuk mewujudkan konflik batin, sangat berbeda daripada karya-karya sebelumnya. Dibanding karya sastra Indonesia sebelumnya, yang terbatas pada tema tradisional seperti &amp;quot;yang baik melawan yang jahat&amp;quot;, ''Belenggu'' mengutamakan konflik psikis tokoh. Novel ini juga menunjukkan kalau sifat modern dan tradisional itu sebenarnya berlawanan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah diselesaikan, ''Belenggu'' ditawarkan kepada [[Balai Pustaka]], penerbit resmi negara [[Hindia Belanda]], pada tahun 1938. Namun, buku ini ditolak karena dianggap tidak bermoral. Novel ini kemudian diambil oleh ''Poedjangga Baroe''. Pada awalnya, penerimaan ''Belenggu'' oleh masyarakat cukup beragam. Pihak yang mendukungnya beranggapan bahwa novel ini benar-benar mencerminkan konflik yang dihadapi para intelektual Indonesia, sementara yang menolak beranggapan bahwa novel ini porno karena memasukkan tokoh pelacur dan tema perselingkuhan. Tanggapan sekarang lebih positif, dengan penulis [[Muhammad Balfas]] menyebutnya &amp;quot;novel Indonesia terbaik dari sebelum perang kemerdekaan&amp;quot;.{{sfn|Balfas|1976|p=69}} ''Belenggu'' sudah diterjemahan dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Inggris.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Alur ==&lt;br /&gt;
Sukartono (Tono), seorang [[dokter]] berpendidikan [[Belanda]], dan istrinya Sumartini (Tini), yang tinggal di [[Batavia]] (sekarang [[Jakarta]]), sedang menjauh. Tono terlalu sibuk merawat pasien sehingga dia tidak punya waktu untuk bersama Tini. Akibatnya, Tini pun menjadi lebih aktif dengan kegiatan sosial, sehingga dia tidak mengurus rumah tangga. Hal ini membuat Tono semakin menjauh, sebab dia ingin Tini menjadi istri tradisional yang bersedia menyiapkan makan dan menunggu dia di rumah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu hari, Tono dipanggil oleh seseorang bernama Nyonya Eni, yang minta dirawat. Ketika Tono mendatanginya, dia menyadari bahwa Ny. Eni sebenarnya adalah Rohayah (Yah), temannya waktu masih kecil. Yah, yang sudah mencintai Tono sejak mereka masih di sekolah rakyat, mulai menggoda Tono sehingga dokter itu jatuh cinta. Mereka mulai bertemu secara diam-diam dan sering pergi ke pelabuhan [[Tanjung Priok (disambiguasi)|Tanjung Priok]]. Ketika Tini pergi ke [[Surakarta]] untuk menghadiri kongres wanita, Tono mengambil langkah untuk hidup bersama Yah selama satu minggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama di rumah Yah, Tono dan Yah membahas masa lalu. Tono menjelaskan bahwa setelah tamat sekolah rakyat di [[Bandung]], dia berpindah ke [[Surabaya]] dan belajar di sekolah kedokteran di sana. Dia menikah dengan Tini karena kecantikannya. Sementara, Yah dijodohkan dengan pria yang lebih tua dan berpindah ke [[Palembang]]. Setelah meninggalkan suami, dia pindah ke Batavia dan menjadi pelacur; selama tiga tahun dia menjadi simpanan pria Belanda. Melihat tingkah laku Yah yang sopan santun, Tono menjadi semakin cinta padanya karena beranggapan bahwa Yah adalah istri yang tepat untuknya. Namun, Yah merasa dirinya belum siap untuk menikah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tono, yang merupakan penggemar musik [[keroncong]], diminta menjadi juri suatu lomba keroncong di [[Pasar Gambir]]. Di sana, dia bertemu dengan Hartono, seorang aktivis politik dan anggota [[Partindo]], yang bertanya tentang istri dokter itu. Beberapa hari kemudian, Hartono mengunjungi rumah Tono dan bertemu dengan Tini. Ternyata Tini pernah menjalin hubungan dengan Hartono saat kuliah, sehingga mereka berhubungan seks; hal ini membuat Tini jengkel dengan dirinya sehingga tidak dapat mencintai laki-laki. Hartono pun semakin mengacaukan keadaan ketika dia memutuskan Tini dengan hanya meninggalkan sepucuk surat. Ketika Hartono minta agar dapat kembali bersama Tini, Tini menolak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mengetahui bahwa Tono selingkuh, Tini menjadi sangat marah dan pergi untuk berbincang dengan Yah. Namun, setelah berbicara panjang dengan Yah, Tini mulai beranggapan bahwa Yah lebih cocok untuk Tono dan minta agar Yah segera menikahinya. Tini lalu berpindah ke Surabaya, dan Tono ditinggalkannya di Batavia. Namun, Yah merasa bahwa mempunyai hubungan dengan Tono akan membuat citra baik Tono hancur, sebab latar belakangnya yang pelacur itu. Dia lalu mengambil keputusan untuk pindah ke [[Kaledonia Baru]], dengan meninggalkan sepucuk surat dan sebuah piring hitam yang membuktikan bahwa Yah sebenarnya penyanyi favorit Tono, Siti Hajati. Dalam perjalanan ke Kaledonia Baru, Yah rindu pada Tono dan mendengar suaranya di radio. Tono ditinggal sendiri dan mulai bekerja sangat keras, dalam usaha untuk mengisi kesepiannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Tokoh ==&lt;br /&gt;
;Sukartono&lt;br /&gt;
:Sukartono (disingkat Tono) adalah seorang [[dokter]] yang merupakan suami Tini dan cinta Yah. Dokter ini suka merawat pasien miskin tanpa memungut biaya, sehingga menjadi terkenal. Dia juga penggemar berat lagu-lagu keroncong. Sewaktu dia masih di sekolah kedokteran, dia lebih suka bernyanyi daripada belajar dan sampai sekarang ada radio di ruang periksanya. Kegemarannya atas musik tradisional mencerminkan keinginannya untuk mempunyai istri yang berwawasan tradisional untuk menjaganya. Karena merasa tersiksa dari pernikahannya tanpa cinta dengan Tini, dia jatuh hati pada Yah, sebab Yah dianggap lebih mampu menjadi istri tradisional. Namun, akhirnya dia ditinggal sendiri.{{sfn|Taum|2008|pp=139–141}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
;Sumartini&lt;br /&gt;
:Sumartini (disingkat Tini) adalah istri Tono yang sangat modern. Waktu masih mahasiswi, dia sangat populer dan suka berpesta. Pada masa itu, Tini menyerahkan keperawanannya kepada Hartono, sehingga setelah dia diputuskan dia menjadi semakin tidak acuh pada keinginan laki-laki. Setelah dinikahi Tono, Tini menjadi semakin kesepian dan mulai bergerak di bidang sosial supaya hidupnya berarti. Ketika mengetahui ketidaksetiaan Tono dan beranggapan bahwa Yah lebih cocok dengan suaminya, Tini meninggalkan Tono dan pindah ke Surabaya.{{sfn|Taum|2008|pp=142–143}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Menurut Yoseph Yapi Taum, seorang dosen di [[Universitas Sanata Dharma]] di [[Yogyakarta]], sikap tidak acu Tini adalah alasan utama mengapa Tono menjadi tertarik pada Yah. Gaya hidup Tini, yang tidak memasuki Tono, membuatnya berasa terasing dan mendorongnya untuk mencari wanita yang lebih tradisional.{{sfn|Taum|2008|p=142}} Tham Seong Chee, seorang kritikus dari [[Singapura]], beranggapan bahwa Tini adalah tokoh yang lemah sebab dia tidak bisa mengambil keputusan tanpa pengaruh luar, dan sampai kapan pun tidak mau menyelesaikan masalahnya dengan Tono. Dia juga menyatakan kalau Tini dibatasi oleh nilainya sendiri, yang tidak sesuai dengan nilai-nilai masyarakat Indonesia pada umumnya.{{sfn|Tham|1981|p=114}} Menurut penyair dan kritikus sastra [[Goenawan Mohamad]], Tini didorong oleh harapan suaminya akan istri yang tradisional.{{sfn|Mohamad 1985, Yah}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
;Rohayah&lt;br /&gt;
:Rohayah (juga dikenal dengan nama samaran Nyonya Eni dan Siti Hayati; disingkat Yah) adalah teman Tono dari [[Sekolah Rakyat]] yang kemudian menjadi simpanannya; dia juga seorang penyanyi keroncong terkemuka. Setelah Tono, yang lebih tua tiga tahun, lulus dari Sekolah Rakyat, Yah dipaksakan untuk menikah dengan pria yang lebih tua 20 tahun dan dibawa ke Palembang. Setelah melarikan diri, Yah kembali ke Bandung; akan tetapi, orang tuanya sudah meninggal. Dia kemudian berpindah ke Batavia dan menjadi seorang pelacur sekaligus penyanyi keroncong dengan nama samaran Siti Hayati. Ketika mengetahui bahwa Tono telah menjadi dokter di Batavia, dia menggoda dokter itu. Biarpun mereka saling jatuh cinta, Yah mengambil langkah untuk pergi sebab dia takut Tono akan diremehkan apabila dia menikah dengan seorang mantan pelacur. Yah berpindah ke [[Kaledonia Baru]].{{sfn|Taum|2008|pp=144–146}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Tham beranggapan bahwa Yah sebenarnya cocok menjadi istri Tono, sebab dia sudi menjadi istri tradisional. Namun, dia tidak dapat menjalani hubungan tersebut karena dulu menjadi pelacur. Menurut Tham, hal ini mencerminkan bahwa &amp;quot;moral dan nilai etis tidak mudah dipahami intelek, akal, atau rasio&amp;quot;.{{sfn|Tham|1981|p=114}} Goenawan beranggapan bahwa Yah sebenarnya seorang fatalis, yang merendahkan diri dengan menyatakan bahwa ada seribu perempuan di Tanjung Priok yang mempunyai cerita serupa. Dia juga beranggapan bahwa tokoh tersebut menjadi mengharukan tanpa menjadi berlebihan. Menurutnya, Yah adalah pelacur pertama yang digambarkan secara simpatetis dalam suatu karya sastra Indonesia.{{sfn|Mohamad 1985, Yah}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Pengaruh ==&lt;br /&gt;
Menurut [[Bakri Siregar]], seorang kritikus sastra Indonesia sosialis yang aktif dengan [[Lembaga Kebudajaan Rakjat|Lekra]], Armijn dipengaruhi teori [[Sigmund Freud]] akan [[psikoanalisis]]; dia menulis bahwa hal ini paling menonjol dalam tokoh Sumartini.{{sfn|Siregar|1964|p=103}} Dua karya Armijn yang ditulis sebelumnya, &amp;quot;Barang Tiada Berharga&amp;quot; (1935) dan &amp;quot;Lupa&amp;quot; (1936), mempunyai aspek plot yang mirip dengan ''Belenggu''. &amp;quot;Barang Tiada Berharga&amp;quot; juga mempunyai tokoh dokter dan istrinya, yaitu Pardi dan Haereni, yang digambarkan dengan watak yang mirip Sukartono dan Sumartini, sementara &amp;quot;Lupa&amp;quot; memperkenalkan tokoh utama Sukartono.{{sfn|Balfas|1976|p=70}} Sebab pemerintah [[Hindia Belanda]] melarang pembahasan politik dalam sastra, Armijn membatasi sindiran pada sistem kolonial dalm novel.{{sfn|Christie|2001|p=69}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Gaya ==&lt;br /&gt;
''Belenggu'' sering menggunakan tanda [[elipsis]] dan [[monolog]] untuk mencerminkan konflik batin tokoh masing-masing, sehingga kritikus sastra Indonesia berasal Belanda A. Teeuw menyatakan bahwa novel ini adalah &amp;quot;monolog interior bercabang tiga&amp;quot;.{{sfn|Teeuw|1980|p=122}} Berbeda dari karya-karya yang diterbitkan [[Balai Pustaka]], yang merupakan penerbit milik negara [[Hindia Belanda]], ''Belenggu'' tidak menjelaskan semua aspek cerita; hanya aspek kunci dikemukakan, dengan aspek lain diisi sendiri oelh pembaca. Ini membuat pembacaan menjadi lebih aktif.{{sfn|Siregar|1964|p=102}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbeda dari penulis novel Balai Pustaka, Armijn tidak menggunakan [[peribahasa]]; dia lebih menekankan penggunaan [[simile]]. Cara lain yang menunjukkan perbedaan gaya tulis Armijn dengan penulis-penulis Balai Pustaka ialah dengan membatasi penggunaan [[bahasa Belanda]] murni; sebelumnya penulis seperti [[Abdul Muis]] dan [[Sutan Takdir Alisjahbana]] menggunakan bahasa kolonialis itu untuk menggambarkan sifat tokoh utama yang intelektual. Sementara, dalam ''Belenggu'' Armijn menekankan bahasa serapan, sehingga edisi-edisi awal memuat daftar istilah yang berisikan istilah-istilah yang baru atau sulit.{{sfn|Balfas|1976|p=69}}{{sfn|Siregar|1964|pp=103–104}} Siregar menulis bahwa bahasa Armijn lebih mencerminkan penggunaan bahasa Indonesia sehari-hari.{{sfn|Siregar|1964|pp=103–104}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Analisis ==&lt;br /&gt;
=== Simbolisme ===&lt;br /&gt;
Menurut Yapi, judul ''Belenggu'' mencerminkan konflik batin yang dihadapi semua tokoh utama, sehingga mereka terbatas dalam perilaku mereka. Yapi menunjuk pada klimaks novel sebagai contoh baik akan keterbatasan itu.{{sfn|Taum|2008|p=147}} Menurut Siregar, hal ini didukung oleh dialog antara Siregar antara Hartono dan Sukartono, di mana mereka beranggapan bahwa manusia selalu dibelenggu oleh kenangannya akan masa lalu.{{sfn|Siregar|1964|p=105}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbeda dari karya sastra Indonesia pada zaman itu, bab-bab ''Belenggu'' hanya diberi nomor bab – karya lain, misalkan ''[[Salah Asuhan]]'' (1928) karya Abdul Muis menggunakan nomor dan judul. Menurut Yapi, perbedaan gaya ini mewakili aliran kesadaran manusia, berbeda dengan cara sebelumnya yang menjadikan setiap bab sebagai peristiwa yang terpisah.{{sfn|Taum|2008|p=138}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Tema ===&lt;br /&gt;
Menurut Teeuw, berbeda dari novel-novel Indonesia pada masa itu, ''Belenggu'' tidak menggunakan tema protagonis yang baik dan suci melawan antagonis yang jahat, atau konflik dan perbedaan antara generasi.{{sfn|Teeuw|1980|p=119}} Novel ini juga tidak menggunakan tema [[kawin paksa]] dan tidak diterimanya [[adat]] oleh pemuda-pemudi.{{sfn|Balfas|1976|p=69}} Novel ini malah menggunakan tema [[cinta segitiga]]&amp;amp;nbsp;– yang pada saat itu sudah umum di sastra Barat tapi belum ada di sastra Indonesia&amp;amp;nbsp;– tanpa menunjukkan siapa yang baik, jahat, benar, atau salah. Dia menulis kalau buku ini menggambarkan konflik batin sejenis manusia baru, yang dibentuk karena persatuan budaya Timur dan Barat.{{sfn|Teeuw|1980|p=119}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yapi mencatat bahwa ''Belenggu'' menunjukkan hidup modern dan tradisional sebagai dua sistem yang berlawanan, yang memperbandingkan hal-hal baru dengan yang lama. Misalkan, Sukartono, seorang dokter (simbol hidup modern), selalu berpikir tentang masa lalu, Yah, dan lebih suka musik tradisional daripada yang modern. Lewat kontras Sukartono dan istrinya Tini yang sangat modern itu, Armijn menekankan bahwa kehidupan modern belum tentu membuat orang bahagia. Menurut Yapi, ''Belenggu'' mungkin dipengaruhi atau bahkan ditulis sebagai tanggapan atas ''[[Layar Terkembang]]'' (1936), karya [[Sutan Takdir Alisjahbana]], yang juga mempunyai tema ini tetapi lebih pro-modern.{{sfn|Taum|2008|pp=148–150}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Clive Christie, seorang dosen di [[School of Oriental and African Studies]] di London, mencatat bahwa ''Belenggu'' juga mewujudkan rasa terasingkan yang kuat. Dia menulis bahwa para tokoh menjadi seperti anggota &amp;quot;masyarakat yang berada dalam vakum&amp;quot;, tanpa hubungan yang jelas dengan kolonialisme tetapi juga tanpa pengertian yang jelas akan nilai-nilai tradisional. Christie menjelaskan hubungan Tono dengan Yah sebagai simbol atas orang-orang intelektual yang berusaha berinteraksi dengan masyarakat luas melalui budaya populer, tetapi akhirnya tidak berhasil.{{sfn|Christie|2001|p=69}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Penerbitan pertama ==&lt;br /&gt;
''Belenggu'' diserahkan kepada Balai Pustaka pada tahun 1938 untuk diterbitkan, tetapi tidak diterima sebab dianggap berlawanan dengan moral umum;{{sfn|Balfas|1976|p=68}} hal ini disebabkan penggambaran perselingkuhan sebagai hal yang umum, bahkan menjadi bagian penting dalam alur. Akhirnya novel ini diterbitkan oleh majalah ''[[Poedjangga Baroe]]'', yang Armijn telah bantu mendirikan pada tahun 1933, dan diterbitkan dalam bentuk serial dari bulan April sampai Juni 1940.{{sfn|Teeuw|1980|p=119}}{{sfn|Balfas|1976|p=68}} ''Belenggu'' adalah satu-satunya novel yang diterbitkan majalah sastra itu,{{sfn|Balfas|1976|p=68}} dan merupakan novel psikologis Indonesia pertama.{{sfn|Rampan|2000|p=92}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada tahun 1965, ''Belenggu'' diterjemahkan ke [[bahasa Malaysia]]. Sampai pada tahun 1988, novel ini sudah terjemahkan ke dalam [[bahasa Mandarin]] dan, pada tahun 1989, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh John McGlynn dengan judul ''Shackles'', lalu diterbitkan [[Yayasan Lontar]].{{sfn|Mahayana|Sofyan|Dian|2007|pp=83–84}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Penerimaan ==&lt;br /&gt;
Ketika ''Belenggu'' diterbitkan, ada dua jenis reaksi utama. Orang-orang yang suka novel ini menyatakan bahwa ''Belenggu'' sangat berani, sebab dia mampu membahas tema yang berdasarkan kenyataan sosial.{{sfn|Taum|2008|p=113}} Misalkan, jurnalis [[S. K. Trimurti]] menulis bahwa buku ini benar-benar mencerminkan permasalahan yang dihadapi orang Indonesia berpendidikan tinggi saat menghadapi kebudayaan tradisional.{{sfn|Tham|1981|p=115}} Sementara, orang-orang yang tidak suka ''Belenggu'' meremehkannya sebagai novel yang &amp;quot;porno&amp;quot;, sebab ada tekanan pada perilaku tabu seperti perselingkuhan dan prostitusi.{{sfn|Taum|2008|p=113}} Menurut Teeuw, resepsi ini dipengaruhi oleh sifat pembaca Indonesia, yang terbiasa membaca karya sastra yang diidealkan, menjadi syok atas kenyataan yang dicerminkan dalam ''Belenggu''.{{sfn|Teeuw|1980|p=121}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kritik-kritik yang lebih mutakhir cendurung lebih positif. [[H.B. Jassin]] menulis pada tahun 1967 bahwa, biarpun tokoh-tokoh bertindak sebagai karikatur, ''Belenggu'' mampu membuat pembaca termenung atas kenyataan sosial modern.{{sfn|KS|2010|p=99}} Pada tahun 1969 novel ini diberi penghargaan dari pemerintah Indonesia;{{sfn|Mahayana|Sofyan|Dian|2007|p=83}} pada tahun yang sama, penulis dan kritikus sastra [[Ajip Rosidi]] menulis bahwa buku ini lebih menarik daripada karya-karya sebelumnya karena penyelesaiannya bersifat multi-tafsir.{{sfn|KS|2010|p=99}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut penyair dan kritikus sastra [[Muhammad Balfas]], yang menulis pada tahun 1976, ''Belenggu'' adalah &amp;quot;novel Indonesia terbaik dari sebelum perang kemerdekaan&amp;quot;.{{sfn|Balfas|1976|p=69}} Dalam bukunya tentang sejarah sastra Indonesia yang terbit pada tahun 1980, Teeuw menulis bahwa, biarpun ada kekurangan dalam penggambaran psikologis tokoh-tokoh utama, ''Belenggu'' adalah satu-satunya novel Indonesia dari sebelum [[Perang Kemerdekaan Indonesia|Perang Kemerdekaan]] yang benar-benar menarik untuk pembaca dari Barat.{{sfn|Teeuw|1980|p=121}} Tham menulis pada tahun 1981 bahwa novel ini adalah cermin terbaik akan timbulnya kesadaran dalam masyarakat Indonesia bahwa nilai-nilai Barat bertentangan dengan nilai-nilai Timur.{{sfn|Tham|1981|p=112}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
;Catatan kaki&lt;br /&gt;
{{reflist|colwidth=30em}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
;Daftar pustaka&lt;br /&gt;
{{refbegin|colwidth=30em}}&lt;br /&gt;
* {{cite book&lt;br /&gt;
|last = Balfas&lt;br /&gt;
|first = Muhammad&lt;br /&gt;
|editor1-first = Brakel&lt;br /&gt;
|editor1-last = L. F.&lt;br /&gt;
|year = 1976&lt;br /&gt;
|title = Handbuch der Orientalistik&lt;br /&gt;
|trans_title = Bugu Pegangan Ilmu Orientalistik&lt;br /&gt;
|language=Inggris&lt;br /&gt;
|chapter = Modern Indonesian Literature in Brief&lt;br /&gt;
|trans_chapter= Pengantar Sastra Indonesia Modern&lt;br /&gt;
|edition =&lt;br /&gt;
|series =&lt;br /&gt;
|volume = 1&lt;br /&gt;
|publisher = E. J. Brill&lt;br /&gt;
|location = Leiden, Netherlands&lt;br /&gt;
|isbn = 978-90-04-04331-2&lt;br /&gt;
|url = http://books.google.com/?id=NbY3AAAAIAAJ&lt;br /&gt;
|ref = harv&lt;br /&gt;
  }}&lt;br /&gt;
* {{cite book&lt;br /&gt;
|last = Christie&lt;br /&gt;
|first = Clive&lt;br /&gt;
|year = 2001&lt;br /&gt;
|title = Ideology and Revolution in Southeast Asia, 1900–1980 : Political Ideas of the Anti-Colonial Era&lt;br /&gt;
|trans_title=Ideologi dan Revolusi di Asia Tenggara, 1900-1980 : Ide Politik dari Zaman Anti-Kolonialisme&lt;br /&gt;
|language=Inggris&lt;br /&gt;
|series =&lt;br /&gt;
|publisher = Curzon&lt;br /&gt;
|location = Richmond&lt;br /&gt;
|isbn = 978-0-7007-1308-0&lt;br /&gt;
|url = http://books.google.ca/books?id=msnkp_1XvpYC&lt;br /&gt;
|ref = harv&lt;br /&gt;
  }}&lt;br /&gt;
* {{cite book&lt;br /&gt;
|last = KS&lt;br /&gt;
|first = Yudiono&lt;br /&gt;
|year = 2010&lt;br /&gt;
|title = Pengantar Sejarah Sastra Indonesia&lt;br /&gt;
|series =&lt;br /&gt;
|publisher = Grasindo&lt;br /&gt;
|location = Jakarta&lt;br /&gt;
|isbn = 978-979-759-849-5&lt;br /&gt;
|url =http://books.google.ca/books?id=4SZPPIHUSpYC&lt;br /&gt;
|ref = harv&lt;br /&gt;
  }}&lt;br /&gt;
* {{cite book&lt;br /&gt;
|last = Mahayana&lt;br /&gt;
|first = Maman S.&lt;br /&gt;
|last2 = Sofyan&lt;br /&gt;
|first2 = Oyon&lt;br /&gt;
|last3 = Dian&lt;br /&gt;
|first3 = Achmad&lt;br /&gt;
|year = 2007&lt;br /&gt;
|title = Ringkasan dan Ulasan Novel Indonesia Modern&lt;br /&gt;
|location = Jakarta&lt;br /&gt;
|publisher = Grasindo&lt;br /&gt;
|isbn = 978-979-0-25006-2&lt;br /&gt;
|url = http://books.google.com/?id=Bq8caP8yvqwC&lt;br /&gt;
|ref = harv&lt;br /&gt;
  }}&lt;br /&gt;
* {{cite news&lt;br /&gt;
|last=Mohamad&lt;br /&gt;
|first=Goenawan&lt;br /&gt;
|authorlink=Goenawan Mohamad&lt;br /&gt;
|title=Yah&lt;br /&gt;
|work=Tempo&lt;br /&gt;
|date=20 April 1985&lt;br /&gt;
|url=http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1985/04/20/CTP/mbm.19850420.CTP36835.id.html&lt;br /&gt;
|accessdate=3 February 2012&lt;br /&gt;
|archiveurl=https://www.webcitation.org/65AT92agG?url=http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1985/04/20/CTP/mbm.19850420.CTP36835.id.html&lt;br /&gt;
|archivedate=2012-02-03&lt;br /&gt;
|ref={{harvid|Mohamad 1985, Yah}}&lt;br /&gt;
|dead-url=no&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
* {{cite book|title=Leksikon Susastra Indonesia|last=Rampan|first1=Korrie Layun|year=2000|publisher=Balai Pustaka|location=Jakarta|isbn=978-979-666-358-3|url=http://books.google.ca/books?id=iCh2XorBXNgC|ref=harv|accessdate=}}&lt;br /&gt;
* {{cite book&lt;br /&gt;
|last = Siregar&lt;br /&gt;
|first = Bakri&lt;br /&gt;
|year = 1964&lt;br /&gt;
|title = Sedjarah Sastera Indonesia&lt;br /&gt;
|series =&lt;br /&gt;
|publisher = Akademi Sastera dan Bahasa &amp;quot;Multatuli&amp;quot;&lt;br /&gt;
|location = Jakarta&lt;br /&gt;
|oclc = 63841626&lt;br /&gt;
|url = http://books.google.com/?id=xXjiAAAAMAAJ&lt;br /&gt;
|volume = 1&lt;br /&gt;
|ref = harv&lt;br /&gt;
  }}&lt;br /&gt;
* {{cite journal |title=Pemaknaan ''Belenggu'' dengan Teori dan Metode Semiotik |last=Taum |first=Yoseph Yapi |journal=Sintesis |pages=131–153 |volume=6 |number=2 |month=October |year=2008 |ref=harv}}&lt;br /&gt;
* {{cite book&lt;br /&gt;
|last = Teeuw&lt;br /&gt;
|first = A.&lt;br /&gt;
|year = 1980&lt;br /&gt;
|title = Sastra Baru Indonesia&lt;br /&gt;
|location = Ende&lt;br /&gt;
|publisher = Nusa Indah&lt;br /&gt;
|volume = 1&lt;br /&gt;
|oclc = 222168801&lt;br /&gt;
|url = http://books.google.com/?id=YVSjHAAACAAJ&lt;br /&gt;
|accessdate =&lt;br /&gt;
|ref = harv&lt;br /&gt;
  }}&lt;br /&gt;
* {{cite book&lt;br /&gt;
|last = Tham&lt;br /&gt;
|first = Seong Chee&lt;br /&gt;
|title = Essays on Literature &amp;amp; Society in Southeast Asia&lt;br /&gt;
|trans_title=Beberapa Esai Mengenai Sastra &amp;amp; Masyarakat di Asia Tenggara&lt;br /&gt;
|language=Inggris&lt;br /&gt;
|publisher = Coronet Books&lt;br /&gt;
|location = S.l&lt;br /&gt;
|year = 1981&lt;br /&gt;
|url=http://books.google.ca/books?id=h6SOvP6FLskC&lt;br /&gt;
|isbn = 978-9971-69-035-9&lt;br /&gt;
|ref=harv&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{refend}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{featured article}}&lt;br /&gt;
{{Authority control}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Kategori:Novel oleh Armijn Pane]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Novel Indonesia]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Novel tahun 1940]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Juliansukrisna87</name></author>
	</entry>
</feed>